Wahyu Terakhir kepada Rasulullah S.A.W.

Thursday, September 6, 2012


Kisah Teladan: WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH SAW.


Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan selepas waktu Asar iaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan (Wada'). Pada masa itu Rasulullah SAW berada di atas unta si Arafah. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata: 

"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."

Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: 

"Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpul para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata:

"Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." 

Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata:

"Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesuatu perkara itu telah sempurna maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda." 

Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. 

Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah SAW berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara 'Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, waktu itu pukul pada tulang rusuk saya kerana saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta anda." Rasulullah SAW berkata: "Wahai 'Ukasyah, aku sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas (diqishash)." 

Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal ra. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW unluk mengambil tongkat beliau."Kemudian Fathimah ra. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal ra.: "Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fathimah ra. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah SAW?" Bilal ra. tidak menjawab perlanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah. 

Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda SAW tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar dudukiah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, "Wahai 'Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah SAW" Lalu Rasultillah SAW berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah SAW" Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah SAW "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul." 

Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah SAW, anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah 'Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium beliau dan berkata, "Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah SAW, siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga."

Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian yang akan menshalat aku ialah Jibril AS, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bershalat ke atasku."

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, "Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati."

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, maka sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan Safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering diziarahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun memberi salam, "Assalaarnualaika ya rasulullah." Lalu dijawab oleh Fathimah ra., "Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, "Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah." 

Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra.; "Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fathimah ra. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah SAW bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah. 

Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia." Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku." 

Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, "Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., "Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fathimah ra. pun berkata, "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya." Kemudian Rasulullah SAW berkata; "Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fathimah,"Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah SAW menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah SAW, "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW.

Apabila Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril AS maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril AS, "Ya aku tahu." Rasulullah SAW bertanya lagi, "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT" Berkata Jibril AS, "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu." Berkata Rasulullah SAW: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril AS, "Allah SWT telah berfirman yang bermaksud:

"Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."
Berkata Rasulullah SAW: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku." Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril AS itu maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril AS berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik ra. berkata: "Apabila ruh Rasulullah SAW telah sampai di dada beliau telah bersabda,

"Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."

Ali ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah SAW berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa: "Malaikat Jibril AS telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."



Puasa Enam di Bulan Syawal

Tuesday, August 28, 2012



Puasa 6

Ibadah puasa adalah suatu amalan mulia yang amat digalakkan oleh Islam. Selain puasa fardhu Ramadhan, umat Islam juga boleh melakukan ibadat puasa sunat di luar bulan Ramadhan. Ada puasa sunat yang bersifat mingguan (seperti berpuasa pada hari isnin dan khamis), puasa bulanan (tiga hari dalam sebulan) dan puasa tahunan (hari Arafah, ‘Asyura’ dan enam hari dalam bulan Syawal).

Puasa adalah satu ibadah yang besar keutamaannya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda, Allah subhanahu wata’aala berfirman (dalam hadis Qudsi):

“Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu).” (Rasulullah menjelaskan): 

“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, nafas orang yang berpuasa adalah lebih harum di sisi Allah berbanding wangian kasturi.” (Sahih Muslim no: 1151) Selain hadis di atas, terdapat banyak hadis lain yang menerangkan keutamaan puasa sunat.
Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu  berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Sesiapa yang berpuasa satu hari pada jalan Allah, nescaya Allah swt menjauhkan mukanya dari api neraka selama 70 tahun”. (Sahih Al-Bukhari no: 2840).

Dalil Puasa 6

Abu Ayyub Al-Ansari ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Sesiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” (Sahih Muslim hadis no: 1164).

Di dalam hadis ini Rasulullah saw menyatakan bahawa puasa enam hari selepas bulan Ramadhan akan diganjari pahala seolah-olah berpuasa selama setahun. Para ulama’ menghuraikan rahsia di sebalik ganjaran tersebut dengan mendatangkan dalil bahawa setiap amalan kebaikan manusia akan diganjari sebanyak 10 kali ganda. Puasa 30 hari di bulan Ramadhan diganjari sebanyak 300 hari, manakala puasa 6 hari di bulan Syawal pula diganjari dengan 60 hari. Jika dikira jumlahnya ialah 360 hari, ia hampir menyamai jumlah hari di dalam setahun sebanyak 360 hari. Sesungguhnya Allah swt maha berkuasa untuk memberikan ganjaran sebanyak mana yang dikehendaki-Nya.

Hikmah Puasa 6

Sebenarnya puasa enam hari ini mempunyai beberapa hikmah yang tertentu dari sudut kesihatan manusia itu sendiri. Puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan antaranya menyebabkan sistem percernaan di dalam badan berehat seketika di waktu siang selama sebulan. Kedatangan bulan Syawal pula menyebabkan seolah-olah ia mengalami kejutan dengan diberikan tugas mencerna pelbagai makanan pada hari raya dan hari-hari selepasnya. Oleh kerana itulah, puasa enam ini memberikan ruang kembali kepada sistem pencernaan badan untuk berehat dan bertugas secara beransur-ansur untuk kebaikan jasmani manusia itu sendiri.

Selain dari itu, sebagai manusia yang menjadi hamba kepada Allah swt, alangkah baiknya seandainya amalan puasa yang diwajibkan ke atas kita di bulan Ramadhan ini kita teruskan juga di bulan Syawal walaupun sekadar enam hari. Ini seolah-olah menunjukkan bahawa kita tidak melakukan ibadat puasa semata-mata kerana ia menjadi satu kewajipan tetapi kerana rasa diri kita sebagai seorang hamba yang benar-benar bersunguh-sungguh untuk taqarrub kepada tuhannya. Kerana itulah kata ulama’: “Betapa malangnya orang yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan, sedangakan pada bulan lain Allah swt dilupai”.
Hukum Puasa 6.

Hukumnya adalah sunat. Berkata Imam An-Nawawi rh: “Hadis ini jelas menjadi dalil bagi mazhab Imam al-Syafi’e, Imam Ahmad, Daud dan ulama’ yang sependapat dengan mereka bahawa disunatkan berpuasa enam hari (pada bulan Syawal).

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pula menganggap hukumnya makruh. Sebabnya kerana bimbang orang ramai akan menyangka ia adalah sebahagian dari puasa Ramadhan (yang wajib hukumnya) padahal ia bukanlah dari puasa Ramadhan.” (Syarah Sahih Muslim 8/56)

Bilakah Dimulakan Puasa Sunat 6?

Puasa sunat enam Syawal paling awal dimulakan pada 2 Syawal. Ini kerana tarikh 1 Syawal adalah hari Eidil Fitri dan kita dilarang dari berpuasa pada hari tersebut. Abu Hurairah ra berkata:
“Nabi saw melarang puasa pada hari (Eidil) Fitri dan (Eidil) Adha.” (Sahih Al-Bukhari no: 1991).

Bagaimana Melaksanakan Puasa 6?

Syarat dan adab bagi puasa sunat enam Syawal adalah sama seperti puasa wajib pada bulan Ramadhan.
Persoalan yang menjadi perbincangan di kalangan para ulama’ ialah:

1. Adakah ia dilaksanakan secara berturut-turut selama enam hari atau secara terputus?

Pandangan yang lebih tepat adalah ia boleh dilakukan secara terputus (tidak berturut-turut) asalkan jumlah enam hari dicukupkan sebelum berakhirnya bulan Syawal. Ini kerana apabila Rasulullah saw menganjurkan puasa sunat enam hari ini, baginda menyebut bulan Syawal secara umum tanpa memberi ketentuan hari-harinya. Maka puasa enam tersebut boleh dilaksanakan pada mana-mana hari dalam bulan Syawal asalkan bukan pada 1 Syawal dan bukan sesudah berakhir bulan Syawal.

Namun adalah lebih afdhal disegerakan pelaksanaan puasa enam Syawal berdasarkan umum firman Allah swt:

“Dan bersegeralah kamu kepada (mengerjakan amal-amal yang baik untuk mendapat) keampunan dari Tuhan kamu, dan (ke arah mendapatkan) Syurga yang bidangnya seluas segala langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Surah Aali Imran:133)

2. Melaksanakan Puasa Sunat Enam Syawal Sebelum Mengqadha Puasa Ramadhan.

Wujud perbincangan di kalangan para ulama’, apakah dibolehkan berpuasa sunat enam Syawal jika seseorang itu memiliki hutang puasa Ramadhan yang belum diqadhanya? Ada dua pendapat ulama’ dalam masalah ini.
Pendapat Pertama: Boleh melakukannya, berdasarkan dalil bahawa Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mengakhirkan hutang puasa Ramadhan yang perlu diqadhanya hingga ke bulan Sya’ban yang akan datang. Aisyah ra berkata:

“Aku memiliki hutang puasa bulan Ramadhan. Aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” Kerana sibuk (melayani) Rasulullah saw. (Sahih Muslim no: 1146. Sahih al-Bukhari, hadis no: 1950, penjelasan "kerana sibuk melayani Rasulullah saw" ialah penjelasan salah seorang perawi hadis yang bernama Yahya bin Sa‘id.)

Para ulama’ yang mengemukakan pendapat pertama berhujah, sudah tentu tidak mungkin isteri Rasulullah saw, yakni Aisyah ra, tidak melaksanakan puasa sunat enam Syawal. Pasti beliau melaksanakannya dan tindakan beliau yang mengqadha puasa Ramadhan pada bulan Sya’ban menunjukkan dibolehkan berpuasa sunat enam Syawal sekali pun seseorang itu memiliki hutang puasa Ramadhan.

Pendapat Kedua: Tidak boleh melakukannya, berdasarkan hadis yang menganjurkan puasa sunat enam Syawal itu sendiri yang telah dikemukakan di awal risalah ini. Hadis tersebut berbunyi: “Sesiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.”

Rasulullah saw mensyaratkan “berpuasa Ramadhan” terlebih dahulu, kemudian barulah “mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal”. Ini menunjukkan puasa sunat enam Syawal hanya dilaksanakan sesudah seseorang itu menggenapkan puasa Ramadhannya. Jika ada puasa Ramadhan ditinggalkan, ia perlu diqadha terlebih dahulu. Kemudian barulah diiringi dengan puasa sunat enam Syawal.

Kalau diperhatikan secara teliti, pendapat yang kedua lebih rajih (kuat); Kerana ianya lebih menepati dalil puasa sunat enam Syawal itu sendiri. Selain dari itu, membayar hutang yang wajib hendaklah didahulukan dari memberi sedekah yang sunat. Ini disokong dengan ayat 133 surah Aali Imran yang dikemukakan sebelum ini, yang menganjurkan kita untuk menyegerakan amal kebajikan. Sudah tentu amal yang wajib lebih perlu disegerakan daripada amal yang sunat.

Namun, sekiranya seorang itu tidak berkesempatan (disebabkan keuzuran) untuk melakukan qadha kemudian berpuasa enam dan dia berkeyakinan akan sempat mengqadhakannya sebelum Ramadhan tahun berikutnya, maka pendapat yang pertama boleh diterima, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Aisyah ra.
Menurut Imam An-Nawawi rh, Mazhab Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafie, Ahmad dan jumhur salaf dan khalaf mengatakan: “Qadha puasa Ramadhan bagi mereka yang berbuka kerana uzur seperti kedatangan haid dan musafir, maka kewajipan mengqadhanya adalah secara bertangguh (‘ala at-tarakhi), tidak disyaratkan qadha terus apabila boleh melakukannya”. (Syarah Sahih Muslim 8/22).

Menurut Al-Khatib Asy-Syarbini: “Sesiapa yang tertinggal puasa Ramadhan, sunat dia mengqadhakannya secara berturut-turut dan makruh bagi orang yang ada qadha Ramadhan melakukan puasa sunat”. ([Mughni Al-Muhtaj 2/181 cet, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut).

3. Menggabungkan puasa qadha dan puasa enam.

Di antara persoalan yang sering timbul sekitar puasa enam ialah adakah harus menggabungkan di antara dua puasa iaitu puasa qadha dan puasa enam hari di bulan Syawal. Adakah diganjari dengan kedua-dua pahala tersebut dengan puasa yang satu?

Persoalan ini berlaku khilaf di kalangan ulama’, sebahagiannya yang berpendapat tidak boleh mencampurkan niat puasa sunat dengan puasa fardhu yang lain atau dengan puasa sunat yang lain, sekiranya dilakukan maka puasanya itu tidak sah, tidak bagi yang fardhu dan tidak bagi yang sunat.

Ada dikalangan ulama’ Syafi’iyyah berpendapat bahawa ganjaran puasa enam tetap akan diperolehi apabila seseorang berpuasa qadha sekalipun ia tidak berniat menggabungkan kedua-duanya, namun pahala yang diperolehi kurang daripada seorang yang berpuasa kedua-duanya secara berasingan. (Lihat:  Hasyiah Asy-Syarqawi ‘Ala Tuhfah At-Tullab 1/428, cet, Darul Ma'rifah, Fatawa Al-Azhar 9/261 Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Al-Khatib Asy-Syarbini berkata: “Jika seseorang berpuasa qadha atau puasa nazar atau puasa sunat yang lain di bulan Syawal, adakah dia mendapat pahala sunat (Syawal) atau tidak? Saya tidak mendapati pendapat ulama’ yang menyebut tentangnya, dan yang zahirnya adalah dapat pahala tersebut (pahala puasa yang diniatinya). Namun, dia tidak mendapat pahala sebagaimana yang disebut oleh hadis yang menerangkan tentang kelebihan puasa enam tadi, khasnya mereka yang tertinggal puasa Ramadhan kemudian berpuasa pada bulan Syawal. Ini kerana mereka tidak memenuhi maksud hadis tersebut (menyempurnakan puasa Ramadahan kemudian diikuti dengan puasa enam)”. (Mughni Al-Muhtaj 2/184 cet, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut).

Setelah dikaji, pandangan ulama’ yang membolehkan puasa dua dalam satu ini, tidak bersandarkan mana-mana dalil al-Qur’an dan al-Sunnah. Mereka juga mengatakan amalan ini hanya mendapat pahala kerana kebetulan berpuasa qadha dalam bulan Syawal, sama seperti pahala sunat tahiyyatul masjid dengan solat fardhu (orang yang terus melakukan solat fardhu apabila masuk ke dalam masjid akan mendapat juga pahala sunat tahiyyatul masjid). Wallahu a’lam.

Oleh itu, lakukanlah dua ibadat puasa ini (fardhu dan sunat) secara berasingan, kerana sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah SWT, memperbanyakkan amalan taqarrub dengan memisahkan di antara yang menjadi kewajipan dengan yang menjadi galakan (sunat) tentulah lebih menunjukkan kesungguhan diri sebagai seorang hamba yang mencari keredhaan Tuhannya. Ini juga lebih berhati-hati (ahwat) dalam ibadat, serta melakukan ibadat dengan yakin adalah lebih utama (aula), kerana ada pendapat ulama’ mengatakan tidak boleh mencampurkan niat puasa sunat dengan puasa fardhu yang lain atau dengan puasa sunat yang lain.

Sebagai kesimpulan, puasa sunat semata-mata kerana Allah (bukan kerana sakit atau ingin berdiet) mempunyai kelebihan yang besar di sisi Allah swt dan sangat digalakkan oleh Rasulullah saw.

Sebagaimana yang diketahui semua amalan sunat adalah sebagai penampal kepada mana-mana kekurangan dalam amalan fardhu. Puasa enam hari pada bulan Syawal ini pula thabit dari sunnah Rasulullah saw. Sepatutnyalah kita mengambil peluang ini untuk berpuasa enam hari pada bulan Syawal. Sempurnakan dahulu qadha beberapa hari yang tertinggal, kerana kita tidak tahu apakah hayat dan kesihatan yang ada akan berterusan sehingga kita dapat menunaikannya di masa hadapan.

Bagi orang yang tidak sempat melakukan puasa sunat kerana sibuk dengan puasa wajib diharapkan Allah swt akan memberi ganjaran berdasarkan niat dan azamnya. Sebagaimana sabda Nabi saw:

“Apabila seorang hamba Allah sakit atau musafir (beliau tidak dapat melakukan amalan yang biasa dilakukannya) maka dituliskan baginya pahala seperti amalan yang biasa dilakukannya sewaktu tidak bermusafir dan sewaktu sihat” (Sahih Al-Bukhari no. 2834)

Semoga kita semua diberi taufiq dan hidayah oleh Allah swt ke jalan yang di redhai-Nya serta dapat melaksanakan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal ini dengan sempurna. Seterusnya kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang mendapat kejayaan dunia dan akhirat. Aamin.



Nafsu Yang Degil Pada Perintah Allah.

Thursday, July 19, 2012


Kisah Teladan: Kisah Nafsu Yang Degil Pada Perintah Allah.

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahawa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.

Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah."

Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."
Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."

Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku."

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahawa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.
Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahawa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.






Pemuda Beribu-Bapakan Babi

Tuesday, July 17, 2012


Kisah Teladan: Kisah Pemuda Beribu-Bapakan Babi.

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?".
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh kehairanan.

Bai itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.
Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.

"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.

"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."

Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.

Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.
Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.

Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.




Hikmah Meninggalkan Cakap Bohong

Monday, July 16, 2012


Kisah Teladan: Hikmah Meninggalkan Cakap Bohong.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, menceritakan pada suatu hari ada seorang telah datang berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. kerana hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata :

"Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu sahaja berbuat dosa dan payah hendak meninggalkannya." Maka Rasulullah menjawab : "Mahukah engkau berjanji bahawa engkau sanggup meninggalkan cakap bohong?"
"Ya, saya berjanji" jawab lelaki itu singkat. Selepas itu, dia pun pulanglah ke rumahnya.

Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi dan meminum minuman keras. Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia sedaya upaya untuk meninggalkan segala keburukan itu. Sebab itulah dia meminta nasihat dari Rasulullah S.A.W.

Dalam perjalanan pulang dari menemui Rasulullah S.A.W. lelaki itu berkata di dalam hatinya :
"Berat juga aku hendak meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah itu."

Maka setiap kali hatinya terdorong untk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejek.
"Berani engkau berbuat jahat. Apakah jawapan kamu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah. Sanggupkah engkau berbohong kepadanya" bisik hati kecil. Setiap kali dia berniat hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah S.A.W. dan setiap kali pulalah hatinya berkata :

"Kalau aku berbohong kepada Rasulullah bererti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku bercakap benar bererti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam. Oh Tuhan....sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah itu terkandung sebuah hikmah yang sangat berharga."

Setelah dia berjuang dengan hawa nafsunya itu, akhirnya lelaki itu berjaya di dalam perjuangannya menentang kehendak nalurinya. Menurut hadis itu lagi, sejak dari hari itu bermula babak baru dalam hidupnya. Dia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup seperti yang digariskan oleh Rasulullah S.A.W. Hingga ke akhirnya dia telah berubah menjadi mukmin yang soleh dan mulia.

Kisah Berkat Membaca Bismillah.

Wednesday, July 11, 2012


Kisah Teladan: Kisah Berkat Membaca Bismillah.


Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."

Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.

Kisah Lima Perkara Aneh

Tuesday, July 10, 2012



Kisah Teladan: Kisah Lima Perkara Aneh.

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.







Jualan Murah Adidas, Converse dan Puma.

Sunday, June 24, 2012


Jualan Murah Adidas, Converse dan Puma di South City Plaza, Seri Kembangan dari 23 June sehingga 10 july 2012 dari 10 pagi hingga 9 malam. Terdapat pelbagai jenis barangan seperti baju, kasut, alat sukan dan pelbagai lagi. Yang paling menarik sekali diskaun sehingga 70%. Rugi ler der sapa lepaskan peluang ni. Hahaha... time begini ler nak save duit beli baju raya. Barang branded lak tu.. Yang paling aku geram kasut Puma ler... lawa-lawa beb...




Peluang Perniagaan di Baazar Ramadhan.

Tuesday, June 5, 2012



Bismillahir Rahmanir Rahim, Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh dan Salam Sejahtera…, kat sini ada satu perluang perniagaan untuk berniaga di Bazaar Ramadhan di South City Plaza pada 21/7/2012 hingga 18/8/2012. South City Plaza menawarkan tapak Baazar dari RM160 sebulan mengikut pakej, tempat adalah terhad. Jadi kepada sesiapa yang berminat sila lah buat tempahan atau ingin membuat pertanyaan sila hubungi 03-89481888.

So pada makcik2 dan pakcik2 semua time ni ler nak buat duit lebih. Jangan le lepaskan peluang di mana sabda Rasulullah S.A.W, bahawa " 9/10 Rezeki datang dari perniagaan".

Semoga Allah SWT. Memberkati usaha anda semua. Amin…..


Khalifah Allah





Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Hakikatnya manusia ialah sebagai hamba Allah s.w.t. bukanlah satu penghinaan atau satu kehinaan kepada manusia sebaliknya gelaran hamba Allah s.w.t. adalah satu gelaran yang paling tinggi kepada manusia seperti yang ditegaskan oleh Allah s.w.t. sendiri di dalam al-Quran kerana itulah gelaran yang diberikan kepada nabi dan rasul. Kehambaan diri manusia kepada Allah s.w.t. Maha Pencipta hakikatnya adalah kemuliaan, keagungan dan kekuatan. Kehinaan yang paling hina ialah kehambaan manusia kepada sesama manusia atau makhluk. Inilah yang ditentang dan cuba dibasmi oleh Islam melalui asas atau konsep tauhid. Salah satu dari keistimewaan atau kemuliaan manusia sebagai hamba Allah s.w.t. yang sebenarnya ialah manusia telah dianugerahkan tugas/amanah yang tidak dipunyai oleh seluruh makhluk lain iaitu khalifahtullah dimuka bumi.

Manusia sebagai hamba Allah s.w.t. dilantik menjadi khalifah Allah dan perlantikkan itu adalah kerana kelayakan manusia untuk memegang jawatan tersebut. Antara kelayakan tersebut ialah bahawa diantara hamba-Nya maka manusialah yang lebih hampir dengan Alllah s.w.t. Sebagai hakikatnya, hamba-Nya dan kkhalifah-Nya maka manusia tidak berhak mencipta yang diizinkan.

Khalifah adalah satu keistimewaan yang besar dan hanya diberikan kepada manusia dan tidak diberikan kepada malaikat, jauh lagi untuk diberikan kepada jin. Daripada itu diyakini bahawa bukan setiap hamba itu layak dan berhak menjadi khalifahtullah. Seterusnya juga bukan setiap manusia yang pada hakikatnya hamba itu dengan sendirinya adalah khalifah. Walaupun dari segi hakikatnya manusia itu hamba dan khalifah Allah s.w.t. , namun dari segi konsep dan perlaksaan adalah tidak. Oleh kerana itu, maka manusia yang layak dan berhak menjadi khalifah itu ialah manusia yang melaksanakan konsep kehambaan diri kepada Allah s.w.t. dan telah melaksanakan konsep penyerahan diri kepada Allah s.w.t. dalam 4 ciri tersebut. a) Akidah b) Akhlak c) Ibadah d) Syariat

Terkandung dalam pengertian khalifah ialah menguasai dan memerintah ataupun mempunyai sifat "al-siyadah @ ketuanan". Sifat ini di akui oleh Allah s.w.t. seperti yang termaktub dalam perlembagaan suci al-Quran untuk menjadi "Tuan" keatas segala makhluk dan segala ciptaan di atas muka bumi. Tetapi sifat ini bukan menjadi sifat yang istimewa dan asasi dalam tugas khalifah. Sifat tersebut hanya sebagai alat atau jalan kepada manusia untuk melaksanakan tugas khalifah. Jika ketuanan dan kekuasaan itu digunakan bukan untuk melaksanakan tugas khallifahtullah dimuka bumi maka manusia itu tidak lagi lulus sebagai khalifah tetapi manusia yang menentang, melawan menderhaka dan memberontak kepada Allah s.w.t. serta kepada kekuasaan, pemerintahan, kesultanan dan kehakiman Allah s.w.t. , alangkah kerdilnya manusia untuk melakukan perbuatan tersebut.

Dari sini jelaslah bahawa bukannya setiap hamba Allah s.w.t. itu dengan sendirinya atau semestinya khalifah ialah menjadi khalifah. Walaupun manusia pada hakikatnya adalah hamba tetapi oleh kerana ia tidak melaksanakan konsep pengabdian kepada Allah s.w.t. dalam hidupnya maka dengan sendirinya ia bukan khalifah Allah s.w.t. Jadi manusia layak dan berhak menjadi khalifatullah ialah manusia yang menerima kehambaan dirinya dan melaksanakan konsep pengabdian. Tegasnya konsep penyerahan diri kepada Allah s.w.t.


Menepati dengan hakikat tadi maka untuk mempergunakan ketuanan dan kekuasaan yang diberikan demi untuk menguasai alam benda dan alam semesta ini bagi faedah dan
kepentingan tugasnya itu, manusia memerlukan ILMU.

Al-Quran dengan jelas sekali mengakui bahawa asalah satu asas terpenting untuk melaksanankan tugas ilmu. Ilmu yang dimaksudkan ialah ilmu tentang alam benda bagi di pergunakn untuk melaksanakan tugas khalifah dan untuk melaksanakan konsep pengabdian dan penyerahan.

Kedua ialah ilmu yang menjadi asas terpenting kepada manusia dalam menjalankan tugas sebagai seorang khalifah, yang menjadi kompas panduan dan menjadi tali penghubung dengan Allah s.w.t. ialah:-
a) Ilmu tentang alam syahadah dan alam ghaib
b) Ilmu tentang alam fizik dan ilmu tentang alam metafizik
c) Ilmu tentang alam benda dan ilmu tentang pencipta alam benda(e)
Itulah yang dimaksudkan dalam surah al-Baqarah ayat 31;
'Dan Dialah(Allah s.w.t. ) telah mengajar(nabi) Adam, akan segala nama benda-benda dan gunanya'

Definisi khalifah
Dalam al-Quran menyebut tentang pemberian khalifah dari Allah s.w.t. kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh seperti yang terkandung dalam ayat berikut: 'Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih, bahawa Ia akan memberikan khalifah(menggantikan penguasa-penguasa yang ada) kepada mereka di muka bumi sebagaimana Ia telah memberikan khalifah itu kepada orang-orang sebelum mereka'(QS 24:55)

Di dalam Islam, khalifah digunakan sebagai kata kunci dan bukannya kata kedaulatan atau yang lain kerana kedaulatan sesungguhnya adalah milik Allah s.w.t. Sehubungan dengan itu, sesiapa pun yang memegang kekuasaan dan menggunakan kekuasaan itu sesuai dengan norma-norma dan hukum-hukum Tuhan maka dengan sendirinya ia menjadi khalifah.

Selain daripada itu, kekuasaan untuk mengatur bumi, memakmurkan, mengelola negara dan menyejahterakan masyarakat dijanjikan kepada " seluruh masyarakat beriman" bukannya kepada seseorang atau suatu kelas tertentu.

Maksud khalifah menurut bahasa

Khalifah yang berasal daripada perkataan Bahasa Arab iaitu khalafa bererti ganti; iaitu seseorang yang menggantikan seseorang yang lain. Dia melaksanakan sama ada bersama-sama dengan orang yang digantikannya atau melaksanakannya ketika ketiadaannya. Ianya termasuklah:-(c)
1. Menggantikan orang yang tiada.
2. Menggantikan orang yang telah mati.
3. Menggantikan tempat bagi orang yang tidak mampu menguruskannya.
4. Menggantikan tempat seseorang sebagai memuliakannya.

Maksud khalifah menurut istilah

Maksud khalifah dari segi istilah pula ialah generasi manusia yang dipilih oleh Allah s.w.t. sebagai pengganti-Nya untuk mentadbir, menggurus dan memakmurkan muka bumi ini dengan menjalankan syariah Allah s.w.t. sama ada di peringkat peribadi, keluarga, masyarakat, negara dan antarabangsa.

Dalam pada itu, gelaran khalifah yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada kaum mukmin secara menyeluruh iaitu tidak terbatas pada keluarga tertentu, kelas tertentu, suku tertentu atau ras tertentu. Dalam Islam setiap orang mukmin menjadi khalifah Allah s.w.t. di muka bumi yang sesuai dengan kapasitas individualnya. Seorang khalifah di muka bumi adalah semuanya sama dan tidak ada yang lebih rendah dari khalifah yang lain.

Pemilihan menjadi khalifah
Nikmat terbesar yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada kita manusia adalah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Hal ini tercantum dalam firman-Nya yang bermaksud:- 'Adalah Dia yang telah menjadikan engkau khalifah-Nya, pewaris bumi ini, Ia telah meningkatkan darjat sebahagian di antaramu lebih tinggi dari sebahagian yang lain. Sehingga Ia dapat mengujimu mengenai caramu memeperlakukan pemberian-Nya, sesungguhnya Tuhanmu cepat memberi siksaan namun Ia juga Sangat Pengampun dan Maha Penyayang'( surah Al-anam ayat 165)

Allah s.w.t. telah melepaskan manusia di muka bumi yang terbentang luas ini supaya manusia itu mencari atau menerapkan sifat-sifat yang baik dan buruk menurut apa yang dianggap baik oleh manusia. Oleh sebab itulah manusia diberi kelebihan dari-Nya iaitu akal. Selain itu, otak yang diberikan Allah s.w.t. kepada manusia juga adalah kelengkapan yang utama sekali bagi manusia agar dapat menjadi khalifah Allah s.w.t. di muka bumi ini dengan bijaksana.

Di samping itu, akal manusia timbul yang berpangkal dari otaknya yang membuat satu pertimbangan dengan cara yang di redhai Allah s.w.t. Dengan akal yang diberikan Allah s.w.t. inilah yang menjadikan manusia sebagai pewaris Allah s.w.t. di muka bumi dan cuba mengatasi tentangan kehidupan yang berubah-ubah dari masa ke semasa. Bagi seorang khalifah, dia perlulah memikirkan keputsan yang terbaik dan memilih tindakan yang diredhai oleh Allah s.w.t. Jika penggunaan akal yang ada pada manusia di jalan yang benar, nescaya ianya akan membuatkan manusia itu berperilaku hampir sesuci dan semurni malaikat.

Selain itu, nikmat yang besar bagi manusia ini pernah di tanya oleh malaikat kepada Allah s.w.t. seperti yang terkandung dalam ayat berikut, yang bermaksud:- ' Ingatlah, " Firman Allah s.w.t. kepada malaikat, " Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah diatas muka bumi(Adam). Maka jawab mereka itu, " Adakah patut Engkau jadikan diatas muka bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami tasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman, " Sesungguh nya Aku mengetahui apa-apa yang tiada engakau ketahui". (surah al-Baqarah ayat 30)

Imam Abu Hanafiah berpendapat bahawa menguasai pemerintahan dengan kekuatan kemudian mengambil bai'at secara paksa, bukanlah cara yang sah menurut syariat bagi menjadi khalifah. Sesungguhnya khalifah yang benar ialah yang berdasarkan kesepakatan dan permusyawaratan para ahli fikir yang memeng patut di ajak bermusyawarah.

Selain pendapat Imam abu Hanafiah, keadaan yang terbaik untuk memelih khalifah ialah dengan cara rakyat yang meletakkan kendali pemerintahan, setelah permusyawaratan mereka, mereka akan memilih seseorang yang mereka anggap paling tepat untuk memimpin umat dan patut menggendalikannya.

Dalam pada itu, mereka tidak boleh terdiri dari orang-orang yang zalim, fasik, fajir*, lalai akan Allah s.w.t. , melanggar batasan-batasan-Nya tetapi mereka haruslah terdiri atas orang-orang mukmin yang bertaqwa dan beramal soleh. Allah s.w.t. berfirman dalam surah Shaad ayat 28, bermaksud: 'Adakah Kami jadikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh seperti orang-orang yang berbuat bencana dimuka bumi? Bahkan adakah Kami jadikan orang-orang yang taqwa(baik) seperti orang-orang yang fasik(jahat)?

Selain itu, mereka juga tidak terdiri dari orang-orang bodoh atau dungu, tapi haruslah orang-orang yang berilmu, berakal, sihat, memiliki kecerdasan, kearifan, kemamapuan intelektual dan fasik untuk memerintah roda khalifah dan mengikut tanggungjawabnya.

Kisah pemilihan khalifah(Khalifah ar-Rasyidin)

Umar bin Khattab r. a. telah mencalonkan Abu Bakar as-Shiddiq r. a. untuk menduduki jabatan khalifah menggantikan kedudukan Nabi s.a.w. Dan penduduk kota Madinah, yang pada hakikatnya merupakan wakil-wakil negeri secara keseluruhan telah menerimanya dengan baik, mereka itu telah membai'atnya dengan sukarela dan atas dasar pilihan mereka, tanpa paksaan ataupun tekanan. Dan ketika Abu Bakar meninggal dunia, ia mewasiatkan khalifah bagi Umar r. a. dengan mengumpulkan pendudukan di masjid Nabi s.a.w. , kemudian berkata kepada mereka: "Apakah kalian menyetujui oranag yang ku tunjuk untuk menggantikan kedududkanku sepeninggalku? Sesungguhnya aku, demi Allah s.w.t. , telah bersungguh-sungguh berdaya upaya memikirkan tentang hal ini dan aku tidak mengangkat seorang dari sanak saudaraku, tapi aku telah menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantiku. Maka dengarlah dan taatlah kepadanya. "

Orang ramai pun berkata: "sami'na wa atha'na'( Kami dengar dan kami taat)". Ketika Umar bin Khattab pada saat menlaksanakan haji di tahun hidupnya yang terakhir, beliau mendengar bahawa seseorang telah berkata; " Sekirananya amirul mukmunin(yakni Umar) meninggal dunia, nescaya aku akan membai'atkan sifulan, sebab bai'at kepada Abu Bakar adalah suatu peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, namun ia telah berlangsung dengan baik dan sempurna". Maka Umar pun berkata:" Aku akan berpidato kepada rakyat pada petang hari ini dan akan menggeluarkan peringatan kepada sekelompok orang yang ingin memaksakan kehendak mereka atas rakyat".

Kerana itu, demi mengingatkan peristiwa ini dalam khutbahnya yang pertama sekembalinya ke kota Madinah, ia telah menceritakan dengan terperinci peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Saqifah dan kondisi yang telah menyebabkan dirinya bangkit untuk memberikan bai'atnya kepada Abu Bakar secara tiba-tiba. Kata Umar:" Sesungguhnya kami waktu itu tidak mempunyai pilihan lain yang lebih kuat dari melakukan bai'at kepada Abu Bakar. Sekiranya kami meningalkan tempat itu melaksanakan bai'at, kami khuwatir bahawa meraka akan melangsungkan suatu bai'at lainnya dan setelah itu kami hanya dapat mengikuti mereka dalam sesuatu yang kami setujui atau kami menentang mereka, maka keonaran pun pasti akan terjadi. Kerana itu barangsiapa membai'at seseorang tanpa musyawarah dengan kaum muslimin, hendaknya dia jangan diikuti dan jangan pula diikuti oarang yang telah dibai'atnya sebab keduanya terancam akan di bunuh.

Berdasarkan kaedah yang telah dijelaskan dalam pidatonya itu ia kemudian mengangkat suatu panitia pemilihan sesaat sebelum ia wafat agar dapat memutuskam perkara kekhalifahan ini dan ia berkata:" Barangsiapa menyeru kepada kepimpinan bagi dirinya tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin maka bunuhlah dia". Kemudian ia menggeluarkan suatu keputusan yang mengecualikan puteranya sendiri dari hak untuk meraih khalifah agar jabatan itu tidak menjadi jabatan yang diwariskan. Dan ia telah menunjuk 6 orang dalam panitia pemilihan itu yang menurut pandangan adalah orang-orang yang paling besar penggaruhnya dan di terima oleh rakyat.

Pada akhirnya telah diputuskan oleh panitia tersebut untuk meyerahkan urusan pemilihan khalifah ini kepada Abdurrahman bin Auf', maka ia pun berkeliling siapakah yang lebih dapat di terima oleh orang ramai, sehinggalah ia bertanya kepada khafilah-khafilah yang sedang pulang dari haji dan akhirnya ia berkesimpulan setelah mengadakan referendum umum bahawa kebanyakkan rakyat lebih condong kepada Saidina Usman bin Affan. Berdasarkan itu di pilih sebagai khalifah atas kaum muslimin dan di bai'at orang ramai dalam suatu pertamuan umum.

Asas Tanggungjawab Manusia Sebagai Khalifah
Allah s.w.t. menentukan tanggungjawab khalifah ke atas manusia berdasarkan kelayakan dan asas-asas yang kukuh, sesuai dengan penciptaannya untuk menerima tugas tersebut. Ternyatalah bahawa manusia di beri banyak kelebihan oleh Allah s.w.t. jika di bandingkan secara umumnya dengan makhluk yang lain seperti alam benda, tumbuhan, haiwan, jin dan para malaikat.
Antara kelebihannya ialah:-
1. Keseimbangan kejadian
2. Anugerah akal fikiran
3. Memiliki ilmu pengetahuan

Keseimbangan kejadian manusia

Allah telah menciptakan manusia sebaik-baik kejadian. Oleh itu, manusia telah di berikan oleh Allah s.w.t. dengan berbagai-bagai kelebihan kerana untuk melaksanakan tugas sebagai seorang khalifah. Firman-Nya dalam surah as-Sajdah 32:7, bermaksud : 'Yang membaguskan tiap-tiap sesuatu yang dijadikan-Nya, dan Dia(Allah) memulai kejadian manusia dari tanah”

Bentuk badan dan unsur-unsur fizikal manusia yang seimbang dan dikemaskan lagi dengan perasaan, akal, dan roh. Perimbangan antara rohani dan jasmani menjadikan manusia amat berbeza daripada makhluk Allah s.w.t. yang lain. Kelebihan ini di berikan oleh Allah s.w.t. bukannya tanpa sebab tetapi sebenarnya dalam rangka menjadikan manusia sebagai khalifah bumi. Keelokkan kejadian manusia yang menyerlah dengan bentuk fizikal, susunan anggota dan fungsinya serta di lengkapi dengan akal dan emosi yang perlu difahami dan di fungsikan sebaik mungkin oleh generasi manusia.

Anugerah akal fikiran

Allah s.w.t. telah berfirman dalam surah as-Sajdah 32:9, bermaksud: 'Kemudian Dia sempurnakan kejadian(manusia) dan meniupkan ke dalam(tubuh)-nya roh(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan, dan hati(tetapi kebanyakan) kamu amat sedikit bersyukur’

Manusia menggunakan akalnya untuk membina tamadun dan mengorak langkah kemajuan untuk hidup yang lebih selesa dan bertambah maju. Cara hidup, pemakanan, tempat tinggal, susunana masyarakat dan segala perkara yang berkaitan dengan manusia sentiasa berubah tidak seperti makhluk Allah s.w.t. yang lain.

Wahyulah yang akan berfungsi untuk memandu akal manusia ke arah yang sepatutnya agar manusia tetap berada di jalan yang benar di sisi Allah s.w.t. Batasan kemampuan akal akan diatasi oleh wahyu agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi dengan lebih berpedoman dan jayanya.

Memiliki ilmu pengetahuan

Firman Allh s.w.t. dalam surah al-Baqarah 2:31 bermaksud: 'Dan Dia(Allah) mengajar kepada adam nama-nama(benda-benda) seluruhnya, yang kemudian mengemukakan kepada para malaikat lalu berfiman: "Sebutkanlah kepada-Ku nam benda-benda itu jika kamu orang-orang yang benar".

Ilmu yang di maksudkan bukan hanya dengan alam tabi'i dan fizikal malah ianya merangkumi tentang kerohanian dan ghaib. Dengan kejadian dan kelebihan diri yang dianugerahkan Allah s.w.t. serta sumber yang dikawalnya, manusia sepatutnya menanggani pelbagai perkara dan menggunakan kaedah berdasarkan ilmu. Ilmu yang di tuntut bukanlah semata-mata merupakan "maklumat" dan "kefahaman" berkaitan sesuatu perkara, malah ianya hendaklah digunapakai untuk mencerminkan kewajaran manusia sebagai khalifah yang bertanggungjawab terhadap dunia dan Allah s.w.t. yang menciptakannya. Panduan akal dan wahyu merupakan proses penting menjamin kealsian dan benarnya ilmu yang dimiliki.

Di dalam pemerintahan seseorang khalifah itu mestilah dapat memikul tanggungjawab dengan aman dan tanpa keraguan dalam membuat kata putus yang perlu berlandaskan hukum Islam. Sebagai seorang khalifah juga mestilah mempunyai ukhuwah yang kuat supaya masyarakat yang dipimpinnya akan hormat dan memandang tinggi kepadanya. Ini tercantum dalam surah Shaad ayat 20, yang bermaksud: ' Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya nikmat dan lidah yang fasih( kata putus)'

Firman Allah s.w.t. dalam surah al-Hujaraat ayat 10, yang bermaksud: ' Orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, sebab itu perdamaikanlah antara dua orang yang bersaudara dan takutlah kepada Allah s.w.t. , mudah-mudahan kamu mendapat rahmat’

Di dalam hidup bersaudara ini, kita dapat lihat semasa zaman Rasulullah s.a.w. iaitu semasa baginda berhijrah dari kota Makkah ke Madinah. Semasa berhijrah meraka menolong antara satu sama lain walaupun mereka tidak kenal. Oleh itu, sebagai seorang khalifah haruslah menolong saudara mereka dengan hati yang ikhlas dan jangan biarkan mereka dalam kemurkaan dan kebinasaan. Kita juga haruslah tidak melepaskan hajat saudara kita dan perlulah bantu hingga hajatnya tercapai dengan amanah dan jujur.

Khalifah dan Perubahan
Sebagai khalifah, manusia tentunya melakukan perubahan demi perubahan bersama perkembangan tamadun dunia dari masa ke semasa. Sesungguhnya perubahan yang di lakukan tidaklah tergelincir daripada landasan kesejahteraan serta perlulah memepunyai ciri-ciri aqidah, akhlak dan manhaj yang jauh berbeza daripada aliran perubahan yang lain di dunia.

Perubahan yang di lakukan bukannya setakat dari segi material atau fizikal sahaja tetapi ianya merangkumi semua sudut kehidupan manusia iaitu dari segi sosial, ekonomi, politik, aqidah, tabiat dan tingkah laku masyarakat seluruhnya. Perubahan Islam itu mestilah dengan persiapan faktor-faktor dan sendi-sendi yang membolehkan terbangunnya masyarakat madani sebenar di atas asas-asas yang kukuh.

Perubahan perikemanusiaan iaitu cara yang benar tidak akan menuju kepada kebaikan dengan menggunakan jalan keburukan atau menghirup kehinaan untuk sampai ke mercu kejayaan. Perubahan-perubahan ke arah kemajuan yang Rabbani tidak mungkin akan bercanggah dengan kepastian ilmiah atau bertentangan dengna kemajuan teknikal. Sesungguhnya perubahan tersebut adalah meruntuhkan jahiliah dari sudut pemikiran, peraturan dan prinsip. Maka ianya secara menyeluruh meresap dalam rangka melaksanakan tugas dan peranan manusia sebagai khalifah di bumi.

Kesimpulan
Kesimpulan yang boleh di buat dalam tajuk "Manusia Sebagai Khalifah allah s.w.t. di Muka Bumi" ini adalah, manusia haruslah bersyukur kepada Allah kerana Dialah yang memberikan manusia banyak kelebihan yang tidak ada pada makhluknya yang lain. Seorang khalifah itu juga harus sedar bahawa dia telah memikul tanggungjawab yang besar di sisi Allah s.w.t. , oleh sebab itu mereka perlu menguatkan dirinya yang senantiasa mendekati Allah serta meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Di samping itu, mereka juga hendaklah sentiasa rendah diri dan membuat hubungan baik dengan pengikut-pengikutnya serta bertimbang rasa dan bersikap adil dalam segala hal. Khalifah juga tidak bertolak ansur terhadap penyelewengan atau kejahatan yang berlaku dan dia seharusnya melakukan apa yang patut, iaitu yang di tuntut dalam Islam. Seorang khalifah perlulah mempunyai sifat-sifat yang di pandang elok oleh masyarakat yang di pimpinnya.

Dalam pada itu, khalifah mestilah mempunyai keadaan fizikal yang sihat dan baik. Ini kerana kesihatan juga diambil kira sebab ia adalah penting untuk seseorang itu memerintah dengan cara yang betul dan tegas yang berlandaskan hukum Islam. Keselamatan masyarakat yang di perintahnya juga menjadi faktor yang penting supaya kawasan atau tempat yang diperintahnya sentiasa berada dalam keadaan aman dan selamat bagi membentuk masyarakat yang berdisplin serta mengagungkan Allah s.w.t. dalam semua hal.

Selain daripada itu, seorang khalifah juga harus terdiri daripada orang yang bijak pandai supaya kawasan yang di tadbirnya sentiasa dalam keadaan harmoni dan maju kehadapan. Ilmu pengetahuan adalah faktor yang penting bagi seorang khalifah, kerana ianya merupakan satu bonus terhadapnya supaya dia dapat memutuskan sesuatu masalah dengan teliti dalam hal yang berkaitan.